Selamat Datang

_____Selamat Datang____Selamat Membaca___Selamat Mengapresiasi____

Friday, January 11, 2013

Anak Sekolah Goes to Novel


Sore, Guys ...

Hal yang mungkin perlu kalian ketahui saat ini, gue menulis postingan ini berada di depan televisi dan sedang menyaksikan film Jacki Chan. Hm, gue nggak tahu apa judulnya. Tapi yang pasti, itu kayaknya film action. Ya-iyalah, namanya Jacki Chan,  filmnya jelas action. Lagian, sejak kapan Jacki Chan membintangi film horor? Ngaco deh!

Ngomongin Jacki Chan, jadi inget kalau banyak orang bilang, gue itu mirip Jacki Chan. Hah?! Emang iya? Nah, gue aja nggak tahu. Tapi, kenapa tuh orang-orang pada bersikeras ngomong begitu, ya.

Btw, gue nulis postingan ini, bukan mau ngomongin paman gue itu. Gue mau ngomongin masa SLTP gue di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Mlarak. Kan, kemarin gue udah kasih bocoran tentang masa Sekolah Dasar gue yang naksir cewek China dan dinajisin, sekarang gue mau cerita tentang masa SMP gue. 

Sebenarnya masa SMP gue mungkin hampir sama dengan masa SMP kalian. Atau, bahkan sama. Sama-sama absurd dan kurang ajar. Ya, masa itu, adalah masa di mana gue begitu bangga melakukan hal-hal yang melanggar peraturan sekolah. Dan, naasnya, semakin gue melanggar, semakin tumbuh kebanggan gue.

Sarap!



Gue itu sebenarnya murid yang tergolong rajin masuk pagi di hari Senin. Bagi gue, hari Senin itu sangat istimewa. Selain upacara bendera, kami diperintahkan tiba di sekolah sebelum pukul tujuh. Nah, karena itulah, gue selalu datang lebih awal dari teman-teman gue. Bukan untuk upacara, tapi untuk mencari tempat persembunyian. Kalian tahu di mana tempat persembunyian gue? Di WC. Gila nggak tuh. Soalnya, Man, nggak ada tempat selain di situ. Mau bersembunyi di kantin, jam segitu kan belum buka. Kalau ngumpet di kelas, sama saja bohong dong. Kan, Pak Khuduri selalu oprasi setiap kelas. Kenapa WC itu nggak pernah dijadikan tempat rujukan? Karena WC itu baunya minta ampuuunnnn...!! Sumpah! Kalau nggak kepepet, gue juga nggak mau bertahan di situ selama satu jam. 

Selain gue siswa aktif masuk pagi, gue juga siswa yang sangat konsisten. Dalam hal ini gue akui konsisten telat. Terlebih kalau hari Kamis, hari itu sudah menjadi rutinitas gue terlambat bangun pagi. Ya, Sob, malam Kamis gue begadang lihat Smack Down. Alhasil, hampir setiap hari Kamis, gue selalu mendapat hukuman. Dan, hukuman terparah ketika  ketahuan naik pagar, dan pagarnya tepat di depan kantor guru. 

Bego! Udah tahu pager di depan kantor, kenapa gue masih nekad naik juga.

Lalu, gue juga pernah ditampar sama Kak Dian. Saat itu, Apel pagi sedang berlangsung. Gue sama teman gue, Yasin Sadikin, cengingisan mentertawakan seorang cewek yang rambutnya dikepang dua. Karena saking kencangnya cekikikan kami, tak pelak hukaman pun kami terima. Kalian tahu hukuman apa? Gila! Disuruh mencari semut perempuan. Sarap nggak tuh. Emang dia pikir gue apa? dr. Boyke? Atau specialis kelamin semut?

Ya, sebagai yunior, kami pun melangkah melaksanakan hukuman itu. Selama beberapa menit mencari semut di bawah pohon beringin, gue berdebat dengan Yasin menentukan di mana tempat kelamin semut itu. Yang pasti, kala itu, gue dan Yasin nggak ada yang mau mengalah. Hingga, kesepakatan pun dibuat. Datang ke Kak Dian untuk menentukan siapa pemenang di antara kami. Tapi, begitu gue tanya, di mana tempat kelamin semut, eh malah digampar sama Kak Dian.

Sialan!! Emang salah gue apa? Katanya, malu bertanya sesat di jalan. Tapi, kenapa ketika gue bertanya malah digampar Kak Dian? Saat itu, gue hanya berpikir satu hal: Kak Dian juga nggak tahu di mana dan seperti apa kelamin semut perempuan itu.

Tapi ..., itu adalah masa bahagia buat gue. Apalagi saat itu gue naksir cewek. Dia beda kelas sama gue. Hm, gue liat dia kali pertama saat melintas di depan kelas gue. Anaknya manis, senyumnya memesona, matanya itu ... sangat berbinar. Nggak ingin menunggu waktu lama, gue panggil Dadang, teman sebangku gue. Gue bilang, kalau gue suka sama itu cewek, dan minta Dadang comblangin. Eh, begitu gue selesai presentasi panjang lebar, sampe mulut gue berbusa kayak  baju yang dicuci diterjen seperti dikucek sepuluh tangan, nggak tahunya CEWEK itu PACAR si DADANG

Ah, kampret!
Kalau mengingat masa itu, terlebih masa meriset kelamin semut perempuan, gue jadi senyum-senyum sendiri. Kekonyolan dan ke-absurd-an saat itu yang gue lakukan membuat kebanggaan tersendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, gue jadi menyadari kalau semua itu memalukan

Tapi, satu hal yang pasti, gue harus berterimakasih dengan masa itu. Dengan adanya masa kekonyolan itu, akhirnya menggiring gue menuliskan kisah saat SMP dalam novel Anak Sekolahan Paling Dodol yang telah lahir pada tanggal 27 April 2012 kemarin. 

Dan, perlu kalian ketahui, kisah dan setting 75% aku ambil dari sekolah gue yang terletak di kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.  



Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment